Kamis, 16 Maret 2017

Rendahnya Mental Anak Indonesia, Salah Siapa?



Kriminalitas di kalangan remaja semakin marak terjadi di negara Indonesia. Pembunuhan, tawuran, pencurian bahkan seks bebas sudah menjadi hal yang lumrah saat ini. Namun tak jarang orang-orang diluar sana yang malah memanfaatkan keadaan untuk meraup keuntungan besar seperti halnya dalam melakukan praktek aborsi dengan tarif  yang sangat lumayan untuk dinikmati sendiri. Tanpa di sadari inilah awal munculnya pemikiran dan ide-ide negative yang akan membawa mental-mental anak Indonesia menjadi semakin rendah. Lalu salah siapa mental anak Indonesia menjadi semakin rendah jika diluar sana masih banyak orang yang “diuntungkan”?.
Pendidikan, ini adalah salah satu hal yang paling penting di setiap negara termasuk Indonesia. Sebagaimana di ketahui bahwa pendidikan yang baik pasti mampu untuk menciptakan para generasi berkualitas, begitupun hal yang seharusnya dilakukan oleh bangsa Indonesia. Namun kenyataannya banyak sekolah di Indonesia yang mematok harga pendidikan sangat tinggi hanya untuk membayar bangunan megah mirip istana, sedangkan dalam hal pendidikan sangat jauh dari kata sempurna. Inilah faktor mengapa banyak para generasi bangsa yang lebih memilih untuk membanting tulang dari pada memperluas wawasan di sekolah. Lalu salah siapa mental anak Indonesia menjadi semakin rendah jika untuk belajar pun sangat susah?
Diskriminasi, itulah hobi dari negara ini. Membedakan antara si kaya dan si miskin, orang terbuang dan terpandang, atasan dan bawahan. Bahkan hukum pun tak dapat berbicara benar jika uang di depan mata. Itulah hukum Indonesia, menghukum orang tak berdaya seberat-beratnya dan membebaskan penguasa tanpa banyak bicara. Itulah hukum Indonesia, mengacuhkan rakyat jelata  namun menghormati mereka yang bertahta. Itulah mengapa banyak warga yang memberontak, melakukan aksi anarkis agar di pandang. Dan lebih parahnya lagi, mereka yang mengaku para pelindung bangsa tetap duduk nyaman di atas singgasananya, tanpa melirik keluar jendela yang sedang riuh bergelora. Lalu salah siapa mental anak Indonesia menjadi semakin rendah jika sang “IBU” bermental lebih rendah?
Para generasi muda di Indonesia saat ini mungkin memiliki mental yang rendah. Namun hal itu tentu bukan sepenuhnya kesalahan mereka, karena jika diperhatikan tak jarang para pemimpin bangsa yang seharusnya menjadi panutan malah menjadi setan. Para pemimpin dan penerus bangsa harus bersatu, bahu membahu dalam menghapus segala penghambat untuk peningkatan mental seluruh bangsa Indonesia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar