Rabu, 19 April 2017

damaikan hatimu



Menangislah, terkadang kau harus melakukannya.
Lakukanlah setiap malam dalam sujudmu
Lakukanlah untuk menyesali dosamu
Lakukanlah saat kau merasa lelah
Ingatlah, bersabar bukan berarti menjadi kuat karena menopang beban sendirian dan kau tidak akan menjadi lemah hanya karena menangis
Menangislah ketika di hadapanNya

Berhentilah, terkadang kau memang harus melakukannya.
Ada kalanya perasaan gagal menghampiri di kala kau mengejar sesuatu. Maka berhentilah, dan mulai berjalan melawan arah.
Ingatlah, berhenti bukan berarti menyerah dan berhenti tidak akan membuatmu menjadi pecundang. Karena Tuhan selalu menakdirkan sesuatu dengan alasan yang indah.
Berhentilah, dan percaya dengan ketentuanNya

Sabtu, 18 Maret 2017

PERMAINANKU



Solehah, sungguh aku jauh dari kata itu. Bahkan jilbab panjang yang kini selalu ku kenakan baru beberapa minggu ini menjuntai. Aku yang awalnya “orang bilang” bergaya rock n roll dan tomboy kini berpenampilan layaknya ustadzah yang mahir berdakwah. Perubahanku tentu banyak mengundang tanya semua orang di sekelilingku, bahkan hampir semua sahabatku pun menganga tak percaya. Tapi itu hal yang menurutku sangat wajar, karena sampai saat ini pun aku masih tak percaya.
Cinta, siapa yang tak mengenal kata suci itu. Terlebih di kalangan remaja yang memang sedang asyik-asyiknya berbicara tentang dia. Lalu bagaimana dengan diriku? Ya, aku mengenal betul bagaimana dan seperti apa itu cinta. Bermula ketika aku menjalin hubungan dengan seorang lelaki berkaca mata yang tampan, cerdas dan sangat romantis, Ifan namanya. Bak  pelangi di sore hari, ia membuat hari-hariku selalu berwarna. Kami selalu berbagi cerita, bercanda tawa bahkan bertengkar karena timbulnya rasa cemburu. Tapi sungguh, itulah yang membuat hubungan kami lebih indah. Sangat indah. Namun seiring berjalannya waktu, ia perlahan berjarak dengan sengaja. Layaknya pelangi yang memudar, lalu menghilang. Hingga suatu hari aku tersadar bahwa kini ia bosan dan telah beralih menjadi kayu yang bermain api dengan membara di belakangku. Hatiku hancur. Meski ia berkali-kali datang dan merayu, entah mengapa tak ada celah untuk semua perkataannya. Bahkan aku muak dan membanting semua barang pemberiannya termasuk foto mesra yang aku pajang di dinding kamar. Ku perhatikan bingkai foto yang telah pecah itu, lebih tepatnya yang telah kupecahkan, mungkin seperti inilah hatiku saat ini. Berantakan dan takkan pernah kembali sempurna.
Berhari-hari selepas ia pergi, aku merasakan hampa yang luar biasa. Orang-orang di sekitarku seperti tak mau peduli denganku, bergegas meneruskan langkahnya dengan lugas, beranjak meninggalkan tempatnya dengan cepat, tanpa menyadari ada diriku yang hanya dapat berjalan merangkak. Duniaku seakan hambar tak berasa, sepi tak berpenghuni dan diam tak bernyawa. Aku masih ingat bagaimana mahirnya diriku dalam menghisap racun yang terselip di antara dua jari, membuat permainan menyenangkan dari asap yang berhasil dikeluarkan oleh mulutku. Aku pun masih ingat semilir angin yang menerpa wajahku serta mengantarkan seorang wanita luar biasa tepat kehadapanku. “Assalamu’alaikum” sapanya disertai senyuman yang begitu manis. Aku mengernyitkan dahi. Namun aku tak menghiraukannya dan melanjutkan permainan asap itu. Ia duduk tepat disampingku dan terus memperhatikanku, hingga sampai pada hisapan terakhir ia mengeluarkan sebuah buku dan memberikannya padaku lalu pergi. Aku memandangnya dan buku itu secara bergantian, Mungkin dia berencana memberi permainan baru dan mungkin saja ini adalah petunjuk pertama, entahlah yang jelas untuk saat ini tak sedikit pun aku tertarik pada mereka, baik buku maupun pemberinya.
Tiba masa dimana awal semester dua kuliahku dimulai, aku kembali menyibukkan diri membuat segala hal menjadi penting termasuk mencari hujan di berbagai tempat agar kembali menemukan pelangi. Hingga senja sore tiba membawa gerimis, memunculkan pelangi indah dan membuat sore ku menjadi luar biasa. Untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan aku dapat menikmati setiap hari dalam hidup ku. Manis, semanis senyumnya yang menghiasi duniaku. Rey, dialah yang menjadi sayap pelindungku, mengajakku terbang melihat keindahan, membuatku melupakan masa suram. Ya, kebahagiaan yang pernah terenggut alam telah kembali secara perlahan.
Senin pagi yang cerah, wanita itu, dia kembali menghampiriku yang sedang berteduh di bawah pohon rindang. Kembali dengan ke anehannya yang tak ku mengerti. “Kau bahagia bersamanya?” ia bertanya padaku dengan senyumannya yang sama seperti dulu. Aku hanya memandangnya dengan aneh, mungkinkah dia mengikutiku setiap saat sehingga tau semua tentang hidupku dan... Rey? Aku terus bertanya dalam hati tanpa menjawab pertanyaannya. “Sepertinya kau tak membaca buku itu?” tanyanya lagi, kali ini ia menatapku tanpa senyuman. “Maksudmu?” akhirnya setelah lama berusaha untuk tak peduli, suaraku meronta untuk keluar dan bertanya. Kemudian ia menyentuh punggung tanganku sebelum akhirnya pergi tanpa jawaban yang tentu membuatku semakin jatuh kedalam jurang pertanyaan. “Buku… buku…. Buku…” aku terus mengeja kata itu seraya berfikir dan menebak-nebak maksud pertanyaannya. “Ah ya!” suara petikan jariku memecahkan heningnya alam. Buku itu, aku ingat ia memberinya di saat tergelap hidupku. Aku berlari pergi mencari buku itu, membuka setiap kotak usang yang kusimpan dalam gudang rumahku. Akhirnya setelah satu jam aku mencari, buku itu tergeletak di kotak ke delapan yang ku buka. Ku tiup debu yang menempel padanya, membolak baliknya dan memandangnya. Apakah ia benar-benar ingin memainkan sebuah teka teki denganku? Mungkinkah buku ini memang petunjuk pertama? Harus kah aku membuka dan membacanya?
Satu jam, dua jam berlalu aku membaca isi buku itu. Diary, ya isi buku itu adalah catatan harian wanita aneh dan misterius itu. Catatan harian yang begitu persis dengan semua yang ku alami dulu, hanya saja caraku menemukan kebahagiaan baru sangat berbeda dengannya. Tentu, bahagiaku adalah Rey.
Akhirnya rasa penasaran merasuki tubuhku yang tak berhenti mencari keberadaan sang wanita misterius. Setelah melalui perjuangan yang lumayan akhirnya aku berhasil menemukannya di tempat dipinggir danau. Kudekati dia, duduk disampingnya dan memandangnya. Kulihat ia tersenyum tanpa menoleh ke arahku. “Kau, apa maksudmu memberikan buku ini?” ku angkat buku itu tepat di depannya. “Buku itu, catatan harianmu, mengapa kau ingin aku membaca itu? Apakah kau ingin memberitahu bahwa ceritamu sama denganku? Lalu Rey, darimana kau tahu tentang dia? Kau mengikutiku?” aku terus mencerca dia dengan berbagai pertanyaan tanpa memberinya kesempatan untuk menjawab. Entah mengapa aku merasa kesal dibuat bingung olehnya, aku berdiri dan beranjak pergi. “Cerita mu tak sama, kita berbeda” beberapa langkah aku pergi akhirnya ia membuka kunci yang terpasang di mulutnya. Aku kembali dan menempatkan posisiku seperti semula ketika aku datang.
“Kita berbeda, benar? Kau tahu itu”
“Lantas apa? Jelaskan saja apa maksudmu!” aku berbicara dengan menaikkan sedikit nada.
Ia tersenyum, “ternyata kau tak mengerti”
“Apa kau ingin ceritaku persis denganmu? Apa aku harus meninggalkan dia hanya karena kau? Apa kau iri denganku karena tak bisa mendapat pengganti lelaki bangsat mu itu?” aku berbicara dengan lantang kepadanya, dan perlahan senyumnya menghilang. Ia berdiri dan berkata sebelum pergi “kau salah! Aku bahagia karena tidak terjerumus kedalam jurang setan yang banyak diartikan menjadi cinta dan kebahagiaan, jangan jatuhkan dirimu untuk kesekian kalinya”.
Hari berganti malam, perkataan wanita itu masih terngiang jelas ditelingaku. Mungkin ia bermaksud baik dan tak ingin aku merasakan kepedihan. Namun sayang, maksudnya tak tersampaikan karena tiba-tiba saja sayapku patah dan memilih untuk berhenti terbang. Rey, dia pergi tanpa bernada. Seketika aku teringat kembali pada wanita itu, tentu saja dengan perkataannya. Mungkinkah dia tahu bahwa ini akan terjadi padaku? Apakah dia seorang psikolog atau semacam peramal? Mengapa semua perkataannya seakan hal yang akan terjadi padaku? Entahlah, yang jelas ini akan menjadi malam yang panjang untuk mempersiapkan diri mencari dan bertanya pada wanita itu.
Pagi itu, sama sekali aku tak memikirkan si pengecut ulung yang pernah berhasil merayuku. Aku hanya tertuju pada satu hal, sang wanita misterius. Berbeda dari sebelumnya, aku tak perlu usaha keras untuk bertemu dengannya karena ia telah menghampiriku. Menarik tanganku, mengajakku duduk di tempat pertama kali aku membuka suara di depannya. Aku menghela nafas mempersiapkan pertanyaan-pertanyaan yang telah menari-nari.
“Kau seorang peramal? Bagaimana kau tahu apa yang akan terjadi padaku?” tanyaku.
Dia tertawa kecil dan menjawab “bukan! Hanya Allah yang tahu apa yang akan terjadi padamu”
“Lalu apa maksud perkataanmu terakhir kali?”
“Aku hanya ingin memberitahu jangan pernah mencintai seseorang jika bukan karena Allah” jawabnya dengan mata berkaca-kaca.
 “Maksudmu? Merasakan cinta tumbuh dihatiku apakah itu sebuah kesalahan?”
“Tentu bukan, karena cinta merupakan sebuah fitrah yang tuhan berikan kepada manusia”
“Lalu apakah mencintai itu haram?”
“Tentu tidak, karena tuhan pula yang menyuruh kita untuk saling mencintai dan mengasihi”
“Jika begitu bagaimana dengan meraka yang menutup diri untuk mencintai dan dicintai, apakah mereka berdosa?”
“Tentu saja, sungguh mereka berdosa”
“Baiklah, bagaimana dengan kau? Selalu menutup diri dan berusaha berhenti mencintai dan menolak untuk dicintai? Bukankah itu artinya kau mengaku bahwa kau adalah seorang pendosa?”
“Ini adalah hal salah yang telah menjadi lumrah” ia menundukkan kepala, terlihat butiran bening mengalir membentuk aliran sungai di kedua pipinya, “Bagaimana mungkin mereka lebih mencintai makhluk hina dari pada dzat yang maha kuasa, Dia yang Esa telah jelas berfirman bagaimana seharusnya cinta digunakan.. Dan kau benar, aku adalah seorang pendosa. Dan dengan menutup diri, setidaknya aku telah terhindar dari satu dosa besar” lanjutnya, dan aku hanya terdiam. “Di saat kau merasa terpuruk karena cinta, tidakkah kau berfikir bagaimana mungkin Allah bisa seceroboh itu menciptakan manusia dengan memfitrahi cinta jika cinta itu hanya terlahir untuk menyakiti? Tidakkah kau sadar bahwa cinta itu indah jika digunakan dengan benar dan ditemani kesucian? Jika kau merasakan sakitnya cinta, tidakkah kau sadar bahwa itu bukanlah cinta melainkan nafsu?” kini ia mengaliri sungai di pipinya dengan sangat deras, begitupun aku yang entah sejak kapan membuat dua aliran sungai di pipiku.
“Ajarkan aku, ajarkan aku mengenal cinta yang sebenarnya, tolong” aku berkata dengan suara yang terbata-bata. Ia tesenyum, merangkulku dan berkata “Mari belajar bersama untuk menuju cinta hakiki”.
Sejak hari itu ia adalah diary hidupku, memberi dukungan, nasehat, dan tentu saja mengenalkanku kepada cinta hakiki yang benar-benar suci. Dimulai dengan cerita bagaimana ia mengenal cinta hakiki yang ternyata dikenalkan seorang wanita yang merupakan sahabatnya. Dari ceritanya aku dapat menyimpulkan bahwa ia adalah seorang wanita hebat. Menyimpan Allah dalam hatinya, mencintai Allah sepenuhnya. Ia berkata “Cintai Allah, niscaya Allah akan mencintaimu”.
“Maksudmu? Aku sudah mencintai Allah, bukankah aku shalat denganmu tadi?”
“Mencintai-Nya bukan hanya dengan shalat. Cintai ia dengan tulus, maka semuanya akan indah, namun kau tahu itu bukan hal yang mudah”.
Aku menatap matanya dan tersenyum sebagai tanda bahwa aku siap untuk mencintai-Nya dengan tulus. Mulai dengan merubah penampilanku yang sama sekali tak terlihat sebagai seorang muslimah. Ya, jilbab panjang telah menjadi mahkota kebanggaanku. Seperti artis terkenal, aku menjadi pusat perhatian teman-temanku disertai berbagai macam pertanyaan dengan inti yang sama, perubahanku.
Berminggu-minggu setelah perubahanku, aku merasakan ketenangan luar biasa dari hatiku. Hingga dering telephone terdengar di pagi itu, aku mengangkatnya. “Assalamualaikum” sapaku. “Waalaikumsalam, bagaimana kabarmu” suara itu, aku mengenalnya. Aku langsung menutup telephone tanpa menjawab pertanyaannya. Itu suara Rey, untuk apa dia menghubungiku lagi. Suaranya memaksaku mengingat berbagai kenangan yang pernah kami lalui. Aku menghela nafas panjang, mencoba menghentikan sang kenangan yang merasuki otak dan fikiranku dan bergegas mempersiapkan diri untuk menginjakkan kaki di kampus tercinta. Sesampainya dikampus aku bertemu dengan wanita itu yang kini ku sebut ukhti Nissa. Ia menyalamiku, dan bertanya “Apakah aku baik-baik saja”, mungkin ia memperhatikan wajahku yang gelisah. Namun aku berkata dengan yakin bahwa aku tidak apa-apa dan akhirnya kami berpisah untuk menuju kelas masing-masing.
Dua jam berada di kursi depan, namun sama sekali tak ada ilmu yang dapat kutangkap. Akhirnya aku memilih untuk bercerita kepada ukhti Nissa dengan harapan semoga ia dapat memberikan solusi terbaiknya. Selesai perkuliahan kami bertemu, lagi-lagi ditempat pertama kali aku membuka suara. Perlahan cerita-cerita mulai keluar dari mulutku.
“Rey, dia menghubungiku tadi pagi”
“Lalu?”
“Apa yang harus aku lakukan?”
“Apa yang ingin kau lakukan?”
“Aku tak tahu, tapi suaranya tadi pagi benar-benar membuatku mengingat semua masa laluku bersamanya”
“Lakukanlah apa yang ingin kamu lakukan, namun jangan lakukan jika menurutmu Allah tak menyukainya”
Aku menunduk. Ya, aku ingin kembali padanya namun aku tahu bahwa Allah tak akan menyukai itu.
“Apa yang membuatmu begitu tak bisa melupakannya?” ia bertanya padaku.
“Perhatian dan kasih sayangnya yang pernah ia berikan padaku”
“Bagaimana dengan Allah yang memberi perhatian dan kasih sayangNya setiap waktu, apakah kau pernah mengingatnya?”
“Tapi Rey, dia yang pertama yang aku cintai”
“Lalu Allah, menjadi yang keberapa yang kau cintai? tidakkah kau ingat ketika ia menduakanmu? Sakit bukan? Apa bedanya dengan Allah yang diduakan olehmu?”
“Tidak, Allah tetap menjadi yang pertama dihatiku”
“Dan Rey, ia menjadi prioritas utamamu? Begitu?”
“Tidak, sungguh! tak perlu ada status, aku hanya ingin dia menemaniku seperti dulu, itu saja”
“Menemanimu untuk menjadi pendosa?”
Aku terdiam, aku tersentak, aku menyadari betapa hinanya diriku membiarkan ciptaan-Nya menjadi prioritas utama mengalahkan Sang Pencipta.  Namun aku pun tak dapat memungkiri jika sampai detik ini perasaan itu belum hilang sepenuhnya dari hatiku. Ia sepertinya tahu bagaimana kegelisahanku, ia mengajakku bermuhasabah, menenangkan diriku, memberikan motivasi dan akhirnya aku larut dalam hujan air mata, dan memeluknya.
Esok harinya ukhti Nissa mengajakku ke sebuah tempat yang ia sebut sebagai tempat untuk meningkatkan iman. Aku diajaknya untuk bergabung ke dalam sebuah komunitas yang di dalamnya membahas tentang berbagai macam persoalan yang tentunya dapat membawa kita menjadi muslimah yang lebih baik. Aku sungguh senang karena bertemu dengan orang-orang yang begitu luar biasa.
Hari-hari berikutnya, kajian menjadi sebuah kegiatan rutinku. Dengan pementor yang begitu jelita berhati malaikat, seperti embun semua perkataannya sangat menyejukkan. Dan hari ini merupakan kelima kalinya aku mendapat materi luar biasa darinya. Cinta, kali ini ia memaparkannya dengan begitu indah.
“Sahabatku.. Apakah pernah kalian merasakan sakit karena cinta? Jika pernah, tolong tanyakan pada dirimu sendiri dan ingat-ingat lagi apakah benar cinta yang telah menyakitimu? Atau dirimu sendiri? Sahabatku, sesungguhnya cinta adalah sebuah kesucian yang Allah berikan kepada kita semua, maka dari itu jangan nodai ia yang suci dengan nafsu. Jangan fitnah ia sebagai sebuah dosa. Mari kita miliki cinta yang suci itu dengan kesucian hati”.
Aku terpesona mendengar penuturannya yang begitu indah, semua yang dikatakannya adalah benar, bukan cinta yang menyakitiku dulu, tetapi diriku sendiri yang mendekati penyiksaan itu dan sayangnya cinta adalah hal yang selalu kusebut sehingga ia menjadi korbannya. Tiba-tiba salah satu temanku bertanya “Bagaimana caranya agar kita dapat mengetahui atau membedakan antara cinta dan nafsu?” aku mengangguk mengiyakan pertanyaan temanku, lalu dengan senyuman ia menjawabnya “Cinta tidak akan menyuruhmu untuk memiliki, sedangkan nafsu terus memaksamu agar berusaha mendapatkan”. Aku mengangguk lagi mengerti. Namun ada sesuatu yang mengganjal dalam hatiku, dan aku pun mencoba menanyakannya. “Lalu bagaimana dengan mereka yang saling mencintai dan berhasil memiliki rumah tangga harmonis bahkan hingga maut memisahkan antara keduanya, apakah itu pernikahan berdasarkan nafsu? Lantas mengapa mereka bisa bertahan dan tetap harmonis? Bukankah nafsu akan memberi kenikmatan di awal dan berakhir penyesalan?” semua orang melirik ke arahku, dan ia pun tersenyum seraya berkata “kita akan membahas tentang pernikahan pada kajian selanjutnya, semua pertanyaanmu akan saya jawab minggu depan”. Akhirnya kajian pun berakhir dan aku kembali ke rumah dengan rasa penasaran atas jawaban pertanyaanku yang belum sempat untuk dijawab.
Seminggu berlalu akhirnya kajian pun akan dilaksanakan lagi, tubuhku seperti terbakar api semangat yang begitu menggebu. Aku mempersiapkan diri menuju tempat biasa aku kajian dengan teman-temanku. Setelah sampai aku tak melihat siapapun berada disana, mungkin aku terlalu bersemangat sehingga datang lebih awal dari biasanya. Aku menunggu beberapa menit sebelum akhirnya satu persatu temanku datang disusul oleh pementorku itu. Mata, hati dan telingaku telah siap untuk mendengarkan jawabannya. Setelah kajian dimulai dengan pemberian materi akhirnya sesi untuk tanya jawab pun dimulai, aku mengacungkan tanganku dan menagih jawabanku. Ia tersenyum dan berkata “Sebelum saya menjawab pertanyaanmu, apakah kamu tahu bagaimana cinta tumbuh dalam hatimu?”
“Aku tak tahu” jawabku dengan bingung.
“Baiklah jika begitu, bagaimana kamu mengetahui bahwa kamu mencintai dirimu? Mencintai seseorang? Mencintai ibu ayahmu, keluarga ataupun sahabatmu?”
Aku semakin bingung untuk menjawab pertanyaannya, tak ada alasan mengapa aku mencintai mereka karena yang aku tahu mereka sangat berarti bagiku. Aku terus mengerutkan kening, mencoba mencari kata untuk diberikan padanya. Namun semua itu sia-sia karena sungguh aku tak tahu alasannya.
“Baiklah, bagaimana kau tahu mereka saling mencintai?”
“Karena aku melihat mereka selalu tertawa bersama dan saling memberikan perhatian”
“Apa bedanya dengan mereka yang saling memuaskan nafsu? Bukankah itu hal yang sama?” ia tersenyum melihatku yang semakin bingung untuk menjawab pertanyaannya. “Begini sahabatku, kita sudah tahu dalam Islam tak ada istilah pacaran sebelum menikah, yang ada hanya perkenalan sebelum menikah ataupun taaruf, itupun tak boleh berlangsung lama” ia menghela nafas sebelum melanjutkan jawabannya “Jika kalian melihat mereka yang saling mencintai lantas menikah, mereka pasti menyertakan Allah dalam cintanya. Jika mereka tetap harmonis hingga maut memisahkan, mereka pasti selalu mengingat Allah dalam hubungannya. Allah memang tak melarang bercerai namun Dia sangat membenci perceraian itu. Dan tahukah sahabat, di dalam membina rumah tangga pasti akan ada fase ketika kita berkelahi dengan pasangan, namun perceraian tak akan menjadi jalan keluar bagi mereka yang mengingat Allah dalam hatinya”.
Aku mengangguk mengerti, mataku berkaca-kaca mendengar bagaimana bijaksananya orang yang berada didepanku ini. Akhirnya aku pun dapat mengakhiri kajian dengan perasaan puas dan senang karena pada akhirnya apa yang aku tanyakan dapat dengan jelas terpampang di dalam otakku. Mulai saat itu aku berjanji agar selalu berusaha mengontrol diri dan menjaga jarak serta pandanganku.
Berbulan-bulan aku mengikuti kajian ini, banyak manfaat yang aku dapatkan yang membuat hidupku menjadi lebih baik. Pakaianku menjadi semakin tertutup dan perkataanku pun semakin dijaga agar tak ada yang tersakiti secara tak sengaja. Perlahan nan pasti, pengetahuanku tentang Islam menjadi semakin luas dan akhirnya aku di amanati untuk sesekali mengisi kajian dalam komunitas ini khusus bagi anggota baru. Sungguh aku merasakan kedamaian dalam hidupku. Sehingga suatu hari ketika aku mengisi kajian sore, ada seorang teman yang bercerita dan bertanya padaku “aku ingin menjadi wanita muslimah sesungguhnya, tetapi sungguh sulit untuk melepas kekasihku yang sangat ku cintai, lalu apa yang harus kulakukan ?” temanku itu tertunduk namun aku melihat keinginan yang tulus dalam hatinya.
Dan aku pun menjawab pertanyaannya “sahabatku, niatkan sekali lagi dalam hatimu bahwa hanya kepada Allah kau akan melabuhkan cintamu yang pertama, ingatkan sekali lagi bahwa tak ada cinta untuk seorang pria yang kau sebut dengan kekasih, fikirkan lagi bahwa siapapun cintamu kelak dia adalah suamimu, niscaya suami mu akan melakukan hal yang sama, itulah janji Allah” aku tersenyum kepadanya, aku tahu betul seperti apa perasaannya saat ini. “Sahabatku, untuk apa kalian bingung dan cemas untuk mendekati syurga? Untuk apa kalian takut pada hal yang tak perlu ditakutkan? Dan mengapa kalian mendekati hal yang justru harus kalian takutkan?” ia mengerutkan keningnya, entah karena ia tidak mengerti atau memang karena dia tidak sependapat dengan apa yang ku utarakan. Aku pun akhirnya mengajukan satu pertanyaan kepadanya “seberapa besar kamu mencintainya? Kekasihmu itu”
“Sangat besar sehingga aku sulit untuk menjauhinya”
“Lalu seberapa besar kamu mencintai penciptamu?”
“Sangat besar sehingga aku tak mampu melepaskannya dari hatiku”
“Begitukah? Untuk kekasihmu, hanya sekedar menjauh pun kamu tak bisa? Sedangkan kepada penciptamu? Apakah menjauh padaNya adalah hal yang mudah?”
“Aku tak berkata begitu” ia berkata dengan menaikkan sedikit nada bicaranya, mungkin ia tersinggung dengan perkataanku.
“Maaf sahabatku, kamu tadi berkata bahwa kamu sangat sulit hanya untuk menjauhi kekasihmu, dan kamu tak mampu untuk melepaskan Dia sang pencipta dari hatimu, bukankah itu berarti cintamu kepada kekasihmu melebihi cintamu kepada sang pencipta?”
“Mengapa kamu bisa menyimpulkan seperti itu?”
“”kau tak mampu menjauh, itu artinya kau tak mampu melepaskan. Dan kau tak mampu melepaskan, bukankah itu artinya kau mampu untuk hanya sekedar menjauh?”
Ia memandangku, matanya berkaca-kaca dan akhirnya ia berlari keluar. Aku panik. Apakah perkataanku menyakitinya? Seketika aku berlari untuk mengejarnya namun tak ada jejak kepergiannya. Akhirnya aku kembali untuk mengisi kajian dan meminta maaf kepada teman-temanku atas apa yang terjadi dan atas perkataan yang mungkin menyakiti hati mereka.
Setelah kajian selesai, mereka berpamitan kepadaku hingga tinggallah aku sendiri mengisi ruangan yang hening secara tiba-tiba. Aku tak bergerak, aku menunduk menyesali perbuatanku. Hingga terdengar suara wanita yang pertama kali membawaku hijrah menuju jalan yang indah. Namun ia tak sendiri, ia bersama salah satu temanku tadi. Aku berlari ke arah mereka dan memeluknya secara bergantian, serta meminta maaf. Namun ia menjawabnya dengan perkataan yang membuatku lebih bersyukur dan terharu.
“Ukhti, kamu tidak perlu meminta maaf karena perkataanmu tadi sama sekali tidak salah. Aku pergi dan menangis karena aku malu. Kamu telah menyadarkanku bahwa di dunia ini semua sudah di atur oleh Allah termasuk jodoh, jadi sangat bodoh jika aku takut kehilangan jodohku hanya dengan melepaskan ia yang sering kusebut sebagai kekasihku” ia kembali membasahi pipinya dan menghamburkan pelukannya padaku.
Kemudian wanita yang dulu ku anggap misterius berkata padaku “bersyukurlah atas nikmat yang telah Allah berikan padamu saat ini, kebahagiaanmu kini bukan kebahagiaan yang berakhir sia-sia”. Aku tersenyum masih dengan linangan air mata yang terus menerus terjun bebas di kedua pipiku. Permainanku berakhir dengan kebahagiaan. Dan aku sadar banyak jalan menuju kebaikan, namun jalan itu tentu tak akan mudah dan mulus. Namun aku tak akan berhenti bersyukur telah berhasil menyelesaikan permainan yang berawal dengan sangat membingungkan ini, meski aku tau banyak permainan-permainan lain yang tengah menungguku, menunggu perubahanku, hijrahku.