Solehah, sungguh aku jauh dari kata itu.
Bahkan jilbab panjang yang kini selalu ku kenakan baru beberapa minggu ini
menjuntai. Aku yang awalnya “orang bilang” bergaya rock n roll dan tomboy kini
berpenampilan layaknya ustadzah yang mahir berdakwah. Perubahanku tentu banyak
mengundang tanya semua orang di sekelilingku, bahkan hampir semua sahabatku pun
menganga tak percaya. Tapi itu hal yang menurutku sangat wajar, karena sampai
saat ini pun aku masih tak percaya.
Cinta, siapa yang tak mengenal kata suci
itu. Terlebih di kalangan remaja yang memang sedang asyik-asyiknya berbicara
tentang dia. Lalu bagaimana dengan diriku? Ya, aku mengenal betul bagaimana dan
seperti apa itu cinta. Bermula ketika aku menjalin hubungan dengan seorang
lelaki berkaca mata yang tampan, cerdas dan sangat romantis, Ifan namanya. Bak pelangi di sore hari, ia membuat hari-hariku
selalu berwarna. Kami selalu berbagi cerita, bercanda tawa bahkan bertengkar
karena timbulnya rasa cemburu. Tapi sungguh, itulah yang membuat hubungan kami
lebih indah. Sangat indah. Namun seiring berjalannya waktu, ia perlahan
berjarak dengan sengaja. Layaknya pelangi yang memudar, lalu menghilang. Hingga
suatu hari aku tersadar bahwa kini ia bosan dan telah beralih menjadi kayu yang
bermain api dengan membara di belakangku. Hatiku hancur. Meski ia berkali-kali
datang dan merayu, entah mengapa tak ada celah untuk semua perkataannya. Bahkan
aku muak dan membanting semua barang pemberiannya termasuk foto mesra yang aku
pajang di dinding kamar. Ku perhatikan bingkai foto yang telah pecah itu, lebih
tepatnya yang telah kupecahkan, mungkin seperti inilah hatiku saat ini.
Berantakan dan takkan pernah kembali sempurna.
Berhari-hari selepas ia pergi, aku merasakan
hampa yang luar biasa. Orang-orang di sekitarku seperti tak mau peduli
denganku, bergegas meneruskan langkahnya dengan lugas, beranjak meninggalkan
tempatnya dengan cepat, tanpa menyadari ada diriku yang hanya dapat berjalan merangkak.
Duniaku seakan hambar tak berasa, sepi tak berpenghuni dan diam tak bernyawa.
Aku masih ingat bagaimana mahirnya diriku dalam menghisap racun yang terselip
di antara dua jari, membuat permainan menyenangkan dari asap yang berhasil
dikeluarkan oleh mulutku. Aku pun masih ingat semilir angin yang menerpa
wajahku serta mengantarkan seorang wanita luar biasa tepat kehadapanku.
“Assalamu’alaikum” sapanya disertai senyuman yang begitu manis. Aku
mengernyitkan dahi. Namun aku tak menghiraukannya dan melanjutkan permainan
asap itu. Ia duduk tepat disampingku dan terus memperhatikanku, hingga sampai
pada hisapan terakhir ia mengeluarkan sebuah buku dan memberikannya padaku lalu
pergi. Aku memandangnya dan buku itu secara bergantian, Mungkin dia berencana
memberi permainan baru dan mungkin saja ini adalah petunjuk pertama, entahlah yang
jelas untuk saat ini tak sedikit pun aku tertarik pada mereka, baik buku maupun
pemberinya.
Tiba masa dimana awal semester dua kuliahku
dimulai, aku kembali menyibukkan diri membuat segala hal menjadi penting
termasuk mencari hujan di berbagai tempat agar kembali menemukan pelangi. Hingga
senja sore tiba membawa gerimis, memunculkan pelangi indah dan membuat sore ku
menjadi luar biasa. Untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan aku dapat
menikmati setiap hari dalam hidup ku. Manis, semanis senyumnya yang menghiasi
duniaku. Rey, dialah yang menjadi sayap pelindungku, mengajakku terbang melihat
keindahan, membuatku melupakan masa suram. Ya, kebahagiaan yang pernah
terenggut alam telah kembali secara perlahan.
Senin pagi yang cerah, wanita itu, dia
kembali menghampiriku yang sedang berteduh di bawah pohon rindang. Kembali
dengan ke anehannya yang tak ku mengerti. “Kau bahagia bersamanya?” ia bertanya
padaku dengan senyumannya yang sama seperti dulu. Aku hanya memandangnya dengan
aneh, mungkinkah dia mengikutiku setiap saat sehingga tau semua tentang hidupku
dan... Rey? Aku terus bertanya dalam hati tanpa menjawab pertanyaannya. “Sepertinya
kau tak membaca buku itu?” tanyanya lagi, kali ini ia menatapku tanpa senyuman.
“Maksudmu?” akhirnya setelah lama berusaha untuk tak peduli, suaraku meronta
untuk keluar dan bertanya. Kemudian ia menyentuh punggung tanganku sebelum
akhirnya pergi tanpa jawaban yang tentu membuatku semakin jatuh kedalam jurang
pertanyaan. “Buku… buku…. Buku…” aku terus mengeja kata itu seraya berfikir dan
menebak-nebak maksud pertanyaannya. “Ah ya!” suara petikan jariku memecahkan heningnya
alam. Buku itu, aku ingat ia memberinya di saat tergelap hidupku. Aku berlari
pergi mencari buku itu, membuka setiap kotak usang yang kusimpan dalam gudang
rumahku. Akhirnya setelah satu jam aku mencari, buku itu tergeletak di kotak ke
delapan yang ku buka. Ku tiup debu yang menempel padanya, membolak baliknya dan
memandangnya. Apakah ia benar-benar ingin memainkan sebuah teka teki denganku?
Mungkinkah buku ini memang petunjuk pertama? Harus kah aku membuka dan
membacanya?
Satu jam, dua jam berlalu aku membaca isi
buku itu. Diary, ya isi buku itu adalah catatan harian wanita aneh dan
misterius itu. Catatan harian yang begitu persis dengan semua yang ku alami
dulu, hanya saja caraku menemukan kebahagiaan baru sangat berbeda dengannya.
Tentu, bahagiaku adalah Rey.
Akhirnya rasa penasaran merasuki tubuhku
yang tak berhenti mencari keberadaan sang wanita misterius. Setelah melalui
perjuangan yang lumayan akhirnya aku berhasil menemukannya di tempat dipinggir
danau. Kudekati dia, duduk disampingnya dan memandangnya. Kulihat ia tersenyum
tanpa menoleh ke arahku. “Kau, apa maksudmu memberikan buku ini?” ku angkat
buku itu tepat di depannya. “Buku itu, catatan harianmu, mengapa kau ingin aku
membaca itu? Apakah kau ingin memberitahu bahwa ceritamu sama denganku? Lalu
Rey, darimana kau tahu tentang dia? Kau mengikutiku?” aku terus mencerca dia
dengan berbagai pertanyaan tanpa memberinya kesempatan untuk menjawab. Entah
mengapa aku merasa kesal dibuat bingung olehnya, aku berdiri dan beranjak
pergi. “Cerita mu tak sama, kita berbeda” beberapa langkah aku pergi akhirnya
ia membuka kunci yang terpasang di mulutnya. Aku kembali dan menempatkan
posisiku seperti semula ketika aku datang.
“Kita berbeda, benar? Kau tahu itu”
“Lantas apa? Jelaskan saja apa maksudmu!”
aku berbicara dengan menaikkan sedikit nada.
Ia tersenyum, “ternyata kau tak mengerti”
“Apa kau ingin ceritaku persis denganmu?
Apa aku harus meninggalkan dia hanya karena kau? Apa kau iri denganku karena
tak bisa mendapat pengganti lelaki bangsat mu itu?” aku berbicara dengan
lantang kepadanya, dan perlahan senyumnya menghilang. Ia berdiri dan berkata
sebelum pergi “kau salah! Aku bahagia karena tidak terjerumus kedalam jurang
setan yang banyak diartikan menjadi cinta dan kebahagiaan, jangan jatuhkan
dirimu untuk kesekian kalinya”.
Hari berganti malam, perkataan wanita itu
masih terngiang jelas ditelingaku. Mungkin ia bermaksud baik dan tak ingin aku
merasakan kepedihan. Namun sayang, maksudnya tak tersampaikan karena tiba-tiba
saja sayapku patah dan memilih untuk berhenti terbang. Rey, dia pergi tanpa bernada.
Seketika aku teringat kembali pada wanita itu, tentu saja dengan perkataannya.
Mungkinkah dia tahu bahwa ini akan terjadi padaku? Apakah dia seorang psikolog
atau semacam peramal? Mengapa semua perkataannya seakan hal yang akan terjadi
padaku? Entahlah, yang jelas ini akan menjadi malam yang panjang untuk
mempersiapkan diri mencari dan bertanya pada wanita itu.
Pagi itu, sama sekali aku tak memikirkan si
pengecut ulung yang pernah berhasil merayuku. Aku hanya tertuju pada satu hal,
sang wanita misterius. Berbeda dari sebelumnya, aku tak perlu usaha keras untuk
bertemu dengannya karena ia telah menghampiriku. Menarik tanganku, mengajakku
duduk di tempat pertama kali aku membuka suara di depannya. Aku menghela nafas
mempersiapkan pertanyaan-pertanyaan yang telah menari-nari.
“Kau seorang peramal? Bagaimana kau tahu
apa yang akan terjadi padaku?” tanyaku.
Dia tertawa kecil dan menjawab “bukan! Hanya
Allah yang tahu apa yang akan terjadi padamu”
“Lalu apa maksud perkataanmu terakhir kali?”
“Aku hanya ingin memberitahu jangan pernah
mencintai seseorang jika bukan karena Allah” jawabnya dengan mata berkaca-kaca.
“Maksudmu?
Merasakan cinta tumbuh dihatiku apakah itu sebuah kesalahan?”
“Tentu bukan, karena cinta merupakan sebuah
fitrah yang tuhan berikan kepada manusia”
“Lalu apakah mencintai itu haram?”
“Tentu tidak, karena tuhan pula yang
menyuruh kita untuk saling mencintai dan mengasihi”
“Jika begitu bagaimana dengan meraka yang
menutup diri untuk mencintai dan dicintai, apakah mereka berdosa?”
“Tentu saja, sungguh mereka berdosa”
“Baiklah, bagaimana dengan kau? Selalu
menutup diri dan berusaha berhenti mencintai dan menolak untuk dicintai? Bukankah
itu artinya kau mengaku bahwa kau adalah seorang pendosa?”
“Ini adalah hal salah yang telah menjadi
lumrah” ia menundukkan kepala, terlihat butiran bening mengalir membentuk aliran
sungai di kedua pipinya, “Bagaimana mungkin mereka lebih mencintai makhluk hina
dari pada dzat yang maha kuasa, Dia yang Esa telah jelas berfirman bagaimana
seharusnya cinta digunakan.. Dan kau benar, aku adalah seorang pendosa. Dan dengan
menutup diri, setidaknya aku telah terhindar dari satu dosa besar” lanjutnya,
dan aku hanya terdiam. “Di saat kau merasa terpuruk karena cinta, tidakkah kau
berfikir bagaimana mungkin Allah bisa seceroboh itu menciptakan manusia dengan
memfitrahi cinta jika cinta itu hanya terlahir untuk menyakiti? Tidakkah kau
sadar bahwa cinta itu indah jika digunakan dengan benar dan ditemani kesucian?
Jika kau merasakan sakitnya cinta, tidakkah kau sadar bahwa itu bukanlah cinta
melainkan nafsu?” kini ia mengaliri sungai di pipinya dengan sangat deras,
begitupun aku yang entah sejak kapan membuat dua aliran sungai di pipiku.
“Ajarkan aku, ajarkan aku mengenal cinta
yang sebenarnya, tolong” aku berkata dengan suara yang terbata-bata. Ia
tesenyum, merangkulku dan berkata “Mari belajar bersama untuk menuju cinta hakiki”.
Sejak hari itu ia adalah diary hidupku,
memberi dukungan, nasehat, dan tentu saja mengenalkanku kepada cinta hakiki
yang benar-benar suci. Dimulai dengan cerita bagaimana ia mengenal cinta hakiki
yang ternyata dikenalkan seorang wanita yang merupakan sahabatnya. Dari
ceritanya aku dapat menyimpulkan bahwa ia adalah seorang wanita hebat.
Menyimpan Allah dalam hatinya, mencintai Allah sepenuhnya. Ia berkata “Cintai
Allah, niscaya Allah akan mencintaimu”.
“Maksudmu? Aku sudah mencintai Allah,
bukankah aku shalat denganmu tadi?”
“Mencintai-Nya bukan hanya dengan shalat.
Cintai ia dengan tulus, maka semuanya akan indah, namun kau tahu itu bukan hal
yang mudah”.
Aku menatap matanya dan tersenyum sebagai
tanda bahwa aku siap untuk mencintai-Nya dengan tulus. Mulai dengan merubah
penampilanku yang sama sekali tak terlihat sebagai seorang muslimah. Ya, jilbab
panjang telah menjadi mahkota kebanggaanku. Seperti artis terkenal, aku menjadi
pusat perhatian teman-temanku disertai berbagai macam pertanyaan dengan inti
yang sama, perubahanku.
Berminggu-minggu setelah perubahanku, aku
merasakan ketenangan luar biasa dari hatiku. Hingga dering telephone terdengar
di pagi itu, aku mengangkatnya. “Assalamualaikum” sapaku. “Waalaikumsalam,
bagaimana kabarmu” suara itu, aku mengenalnya. Aku langsung menutup telephone
tanpa menjawab pertanyaannya. Itu suara Rey, untuk apa dia menghubungiku lagi. Suaranya
memaksaku mengingat berbagai kenangan yang pernah kami lalui. Aku menghela
nafas panjang, mencoba menghentikan sang kenangan yang merasuki otak dan
fikiranku dan bergegas mempersiapkan diri untuk menginjakkan kaki di kampus
tercinta. Sesampainya dikampus aku bertemu dengan wanita itu yang kini ku sebut
ukhti Nissa. Ia menyalamiku, dan bertanya “Apakah aku baik-baik saja”, mungkin
ia memperhatikan wajahku yang gelisah. Namun aku berkata dengan yakin bahwa aku
tidak apa-apa dan akhirnya kami berpisah untuk menuju kelas masing-masing.
Dua jam berada di kursi depan, namun sama
sekali tak ada ilmu yang dapat kutangkap. Akhirnya aku memilih untuk bercerita
kepada ukhti Nissa dengan harapan semoga ia dapat memberikan solusi terbaiknya.
Selesai perkuliahan kami bertemu, lagi-lagi ditempat pertama kali aku membuka
suara. Perlahan cerita-cerita mulai keluar dari mulutku.
“Rey, dia menghubungiku tadi pagi”
“Lalu?”
“Apa yang harus aku lakukan?”
“Apa yang ingin kau lakukan?”
“Aku tak tahu, tapi suaranya tadi pagi
benar-benar membuatku mengingat semua masa laluku bersamanya”
“Lakukanlah apa yang ingin kamu lakukan,
namun jangan lakukan jika menurutmu Allah tak menyukainya”
Aku menunduk. Ya, aku ingin kembali padanya
namun aku tahu bahwa Allah tak akan menyukai itu.
“Apa yang membuatmu begitu tak bisa
melupakannya?” ia bertanya padaku.
“Perhatian dan kasih sayangnya yang pernah
ia berikan padaku”
“Bagaimana dengan Allah yang memberi
perhatian dan kasih sayangNya setiap waktu, apakah kau pernah mengingatnya?”
“Tapi Rey, dia yang pertama yang aku
cintai”
“Lalu Allah, menjadi yang keberapa yang kau
cintai? tidakkah kau ingat ketika ia menduakanmu? Sakit bukan? Apa bedanya
dengan Allah yang diduakan olehmu?”
“Tidak, Allah tetap menjadi yang pertama
dihatiku”
“Dan Rey, ia menjadi prioritas utamamu?
Begitu?”
“Tidak, sungguh! tak perlu ada status, aku
hanya ingin dia menemaniku seperti dulu, itu saja”
“Menemanimu untuk menjadi pendosa?”
Aku terdiam, aku tersentak, aku menyadari
betapa hinanya diriku membiarkan ciptaan-Nya menjadi prioritas utama
mengalahkan Sang Pencipta. Namun aku pun
tak dapat memungkiri jika sampai detik ini perasaan itu belum hilang sepenuhnya
dari hatiku. Ia sepertinya tahu bagaimana kegelisahanku, ia mengajakku
bermuhasabah, menenangkan diriku, memberikan motivasi dan akhirnya aku larut
dalam hujan air mata, dan memeluknya.
Esok harinya ukhti Nissa mengajakku ke
sebuah tempat yang ia sebut sebagai tempat untuk meningkatkan iman. Aku
diajaknya untuk bergabung ke dalam sebuah komunitas yang di dalamnya membahas
tentang berbagai macam persoalan yang tentunya dapat membawa kita menjadi
muslimah yang lebih baik. Aku sungguh senang karena bertemu dengan orang-orang
yang begitu luar biasa.
Hari-hari berikutnya, kajian menjadi sebuah
kegiatan rutinku. Dengan pementor yang begitu jelita berhati malaikat, seperti
embun semua perkataannya sangat menyejukkan. Dan hari ini merupakan kelima
kalinya aku mendapat materi luar biasa darinya. Cinta, kali ini ia
memaparkannya dengan begitu indah.
“Sahabatku.. Apakah pernah kalian merasakan
sakit karena cinta? Jika pernah, tolong tanyakan pada dirimu sendiri dan
ingat-ingat lagi apakah benar cinta yang telah menyakitimu? Atau dirimu
sendiri? Sahabatku, sesungguhnya cinta adalah sebuah kesucian yang Allah
berikan kepada kita semua, maka dari itu jangan nodai ia yang suci dengan
nafsu. Jangan fitnah ia sebagai sebuah dosa. Mari kita miliki cinta yang suci
itu dengan kesucian hati”.
Aku terpesona mendengar penuturannya yang
begitu indah, semua yang dikatakannya adalah benar, bukan cinta yang
menyakitiku dulu, tetapi diriku sendiri yang mendekati penyiksaan itu dan
sayangnya cinta adalah hal yang selalu kusebut sehingga ia menjadi korbannya.
Tiba-tiba salah satu temanku bertanya “Bagaimana caranya agar kita dapat
mengetahui atau membedakan antara cinta dan nafsu?” aku mengangguk mengiyakan
pertanyaan temanku, lalu dengan senyuman ia menjawabnya “Cinta tidak akan
menyuruhmu untuk memiliki, sedangkan nafsu terus memaksamu agar berusaha
mendapatkan”. Aku mengangguk lagi mengerti. Namun ada sesuatu yang mengganjal
dalam hatiku, dan aku pun mencoba menanyakannya. “Lalu bagaimana dengan mereka
yang saling mencintai dan berhasil memiliki rumah tangga harmonis bahkan hingga
maut memisahkan antara keduanya, apakah itu pernikahan berdasarkan nafsu?
Lantas mengapa mereka bisa bertahan dan tetap harmonis? Bukankah nafsu akan
memberi kenikmatan di awal dan berakhir penyesalan?” semua orang melirik ke
arahku, dan ia pun tersenyum seraya berkata “kita akan membahas tentang
pernikahan pada kajian selanjutnya, semua pertanyaanmu akan saya jawab minggu
depan”. Akhirnya kajian pun berakhir dan aku kembali ke rumah dengan rasa
penasaran atas jawaban pertanyaanku yang belum sempat untuk dijawab.
Seminggu berlalu akhirnya kajian pun akan
dilaksanakan lagi, tubuhku seperti terbakar api semangat yang begitu menggebu.
Aku mempersiapkan diri menuju tempat biasa aku kajian dengan teman-temanku.
Setelah sampai aku tak melihat siapapun berada disana, mungkin aku terlalu
bersemangat sehingga datang lebih awal dari biasanya. Aku menunggu beberapa
menit sebelum akhirnya satu persatu temanku datang disusul oleh pementorku itu.
Mata, hati dan telingaku telah siap untuk mendengarkan jawabannya. Setelah
kajian dimulai dengan pemberian materi akhirnya sesi untuk tanya jawab pun
dimulai, aku mengacungkan tanganku dan menagih jawabanku. Ia tersenyum dan
berkata “Sebelum saya menjawab pertanyaanmu, apakah kamu tahu bagaimana cinta
tumbuh dalam hatimu?”
“Aku tak tahu” jawabku dengan bingung.
“Baiklah jika begitu, bagaimana kamu
mengetahui bahwa kamu mencintai dirimu? Mencintai seseorang? Mencintai ibu
ayahmu, keluarga ataupun sahabatmu?”
Aku semakin bingung untuk menjawab
pertanyaannya, tak ada alasan mengapa aku mencintai mereka karena yang aku tahu
mereka sangat berarti bagiku. Aku terus mengerutkan kening, mencoba mencari
kata untuk diberikan padanya. Namun semua itu sia-sia karena sungguh aku tak
tahu alasannya.
“Baiklah, bagaimana kau tahu mereka saling
mencintai?”
“Karena aku melihat mereka selalu tertawa
bersama dan saling memberikan perhatian”
“Apa bedanya dengan mereka yang saling
memuaskan nafsu? Bukankah itu hal yang sama?” ia tersenyum melihatku yang
semakin bingung untuk menjawab pertanyaannya. “Begini sahabatku, kita sudah
tahu dalam Islam tak ada istilah pacaran sebelum menikah, yang ada hanya
perkenalan sebelum menikah ataupun taaruf, itupun tak boleh berlangsung lama”
ia menghela nafas sebelum melanjutkan jawabannya “Jika kalian melihat mereka
yang saling mencintai lantas menikah, mereka pasti menyertakan Allah dalam
cintanya. Jika mereka tetap harmonis hingga maut memisahkan, mereka pasti selalu
mengingat Allah dalam hubungannya. Allah memang tak melarang bercerai namun Dia
sangat membenci perceraian itu. Dan tahukah sahabat, di dalam membina rumah
tangga pasti akan ada fase ketika kita berkelahi dengan pasangan, namun
perceraian tak akan menjadi jalan keluar bagi mereka yang mengingat Allah dalam
hatinya”.
Aku mengangguk mengerti, mataku
berkaca-kaca mendengar bagaimana bijaksananya orang yang berada didepanku ini.
Akhirnya aku pun dapat mengakhiri kajian dengan perasaan puas dan senang karena
pada akhirnya apa yang aku tanyakan dapat dengan jelas terpampang di dalam
otakku. Mulai saat itu aku berjanji agar selalu berusaha mengontrol diri dan
menjaga jarak serta pandanganku.
Berbulan-bulan aku mengikuti kajian ini,
banyak manfaat yang aku dapatkan yang membuat hidupku menjadi lebih baik.
Pakaianku menjadi semakin tertutup dan perkataanku pun semakin dijaga agar tak
ada yang tersakiti secara tak sengaja. Perlahan nan pasti, pengetahuanku
tentang Islam menjadi semakin luas dan akhirnya aku di amanati untuk sesekali
mengisi kajian dalam komunitas ini khusus bagi anggota baru. Sungguh aku
merasakan kedamaian dalam hidupku. Sehingga suatu hari ketika aku mengisi
kajian sore, ada seorang teman yang bercerita dan bertanya padaku “aku ingin
menjadi wanita muslimah sesungguhnya, tetapi sungguh sulit untuk melepas
kekasihku yang sangat ku cintai, lalu apa yang harus kulakukan ?” temanku itu
tertunduk namun aku melihat keinginan yang tulus dalam hatinya.
Dan aku pun menjawab pertanyaannya
“sahabatku, niatkan sekali lagi dalam hatimu bahwa hanya kepada Allah kau akan
melabuhkan cintamu yang pertama, ingatkan sekali lagi bahwa tak ada cinta untuk
seorang pria yang kau sebut dengan kekasih, fikirkan lagi bahwa siapapun
cintamu kelak dia adalah suamimu, niscaya suami mu akan melakukan hal yang
sama, itulah janji Allah” aku tersenyum kepadanya, aku tahu betul seperti apa
perasaannya saat ini. “Sahabatku, untuk apa kalian bingung dan cemas untuk
mendekati syurga? Untuk apa kalian takut pada hal yang tak perlu ditakutkan?
Dan mengapa kalian mendekati hal yang justru harus kalian takutkan?” ia
mengerutkan keningnya, entah karena ia tidak mengerti atau memang karena dia
tidak sependapat dengan apa yang ku utarakan. Aku pun akhirnya mengajukan satu
pertanyaan kepadanya “seberapa besar kamu mencintainya? Kekasihmu itu”
“Sangat besar sehingga aku sulit untuk
menjauhinya”
“Lalu seberapa besar kamu mencintai
penciptamu?”
“Sangat besar sehingga aku tak mampu
melepaskannya dari hatiku”
“Begitukah? Untuk kekasihmu, hanya sekedar
menjauh pun kamu tak bisa? Sedangkan kepada penciptamu? Apakah menjauh padaNya
adalah hal yang mudah?”
“Aku tak berkata begitu” ia berkata dengan
menaikkan sedikit nada bicaranya, mungkin ia tersinggung dengan perkataanku.
“Maaf sahabatku, kamu tadi berkata bahwa
kamu sangat sulit hanya untuk menjauhi kekasihmu, dan kamu tak mampu untuk
melepaskan Dia sang pencipta dari hatimu, bukankah itu berarti cintamu kepada
kekasihmu melebihi cintamu kepada sang pencipta?”
“Mengapa kamu bisa menyimpulkan seperti
itu?”
“”kau tak mampu menjauh, itu artinya kau
tak mampu melepaskan. Dan kau tak mampu melepaskan, bukankah itu artinya kau
mampu untuk hanya sekedar menjauh?”
Ia memandangku, matanya berkaca-kaca dan
akhirnya ia berlari keluar. Aku panik. Apakah perkataanku menyakitinya?
Seketika aku berlari untuk mengejarnya namun tak ada jejak kepergiannya.
Akhirnya aku kembali untuk mengisi kajian dan meminta maaf kepada teman-temanku
atas apa yang terjadi dan atas perkataan yang mungkin menyakiti hati mereka.
Setelah kajian selesai, mereka berpamitan
kepadaku hingga tinggallah aku sendiri mengisi ruangan yang hening secara
tiba-tiba. Aku tak bergerak, aku menunduk menyesali perbuatanku. Hingga
terdengar suara wanita yang pertama kali membawaku hijrah menuju jalan yang
indah. Namun ia tak sendiri, ia bersama salah satu temanku tadi. Aku berlari ke
arah mereka dan memeluknya secara bergantian, serta meminta maaf. Namun ia
menjawabnya dengan perkataan yang membuatku lebih bersyukur dan terharu.
“Ukhti, kamu tidak perlu meminta maaf
karena perkataanmu tadi sama sekali tidak salah. Aku pergi dan menangis karena
aku malu. Kamu telah menyadarkanku bahwa di dunia ini semua sudah di atur oleh
Allah termasuk jodoh, jadi sangat bodoh jika aku takut kehilangan jodohku hanya
dengan melepaskan ia yang sering kusebut sebagai kekasihku” ia kembali
membasahi pipinya dan menghamburkan pelukannya padaku.
Kemudian wanita yang dulu ku anggap
misterius berkata padaku “bersyukurlah atas nikmat yang telah Allah berikan
padamu saat ini, kebahagiaanmu kini bukan kebahagiaan yang berakhir sia-sia”.
Aku tersenyum masih dengan linangan air mata yang terus menerus terjun bebas di
kedua pipiku. Permainanku berakhir dengan kebahagiaan. Dan aku sadar banyak
jalan menuju kebaikan, namun jalan itu tentu tak akan mudah dan mulus. Namun
aku tak akan berhenti bersyukur telah berhasil menyelesaikan permainan yang
berawal dengan sangat membingungkan ini, meski aku tau banyak permainan-permainan
lain yang tengah menungguku, menunggu perubahanku, hijrahku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar